TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi Kacang Tanah
Kacang tanah (Arachis hipogaea, L.) merupakan tanaman yang berasal dari benua Amerika, khususnya dari Brazilia (Amerika Selatan). Kacang tanah telah menyebar diseluruh dunia yang beriklim subtropis maupun tropis termasuk Indonesia (Adisarwanto, 2005).
Daun kacang tanah merupakan daun bersirip genap, terdiri atas empat anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Daun mulai gugur dari bagian bawah pada saat akhir masa pertumbuhan. Bunga kacang tanah mulai tumbuh keluar dari ketiak daun pada umur 4-5 minggu. Tanaman kacang tanah umumnya melakukan penyerbukan sendiri sewaktu bunga masih kuncup (kleistogami). Bunga kacang tanah yang terbentuk menjadi polong adalah bunga yang terbentuk pada sepuluh hari pertama dan bunga yang muncul berikutnya akan gugur sebelum menjadi ginofor. Ginofor tumbuh mengarah ke bawah dan masuk ke dalam tanah sedalam 1-5 cm. Ginofor yang terbentuk cabang bagian atas dan tidak masuk ke dalam tanah akan gagal terbentuk polong (Pitojo, 2005).
Di Indonesia, kacang tanah dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian tempat tidak lebih dari 500 m di atas permukaan air laut dengan iklim yang panas sedikit lembab, yaitu rata-rata 65-75%. Pada umumnya iklim yang paling cocok adalah di daerah yang suhu musim panasnya 25-35oC, curah hujan yang tidak terlalu tinggi, yaitu 800-1300 mm/tahun. Di daerah suhu kurang dari 200C tanaman akan tumbuh lambat dan produksi relatif sedikit, sedangkan jika suhu tanah lebih dari 40oC justru akan mematikan benih yang baru ditanam. Suhu merupakan faktor penentu dalam perkecambahan biji dan pertumbuhan awal tanaman (Maesen dan Somaatmadja, 1992).
Tanaman kacang tanah umumnya cocok ditanam pada tanah yang ber pH 5,6-6,6. Untuk dapat tumbuh dengan baik kacang tanah menghendaki tanah yang subur, gembur, dan ringan, serta kaya akan humus dan bahan organik (Deptan, 2009). Tanah yang gembur akan memberikan kemudahan pada kacang tanah saat perkecambahan biji dan pembentukan polong.

Fase Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah
Tanaman kacang tanah mempunyai dua fase pada pertumbuhan yaitu fase pertumbuhan vegetatif dan generatif. Fase vegetatif dihitung sejak tanaman muncul dari dalam tanah atau sejak biji berkecambah hingga tajuk mencapai maksimum. Kacang tanah termasuk tanaman hari pendek dengan lama penyinaran ± 12 jam per hari. Fase generatif atau reprodukif dinyatakan sejak waktu tanam berbunga hingga perkembangan polong, perkembangan biji, dan pada saat matang.
Trustinah (1993) menyatakan bahwa pembungaan pada kacang tanah dimulai dari hari ke-27 sampai hari ke-32 setelah tanam yang ditandai dengan munculnya bunga pertama. Ginofor (tangkai kepala putik) muncul pada hari ke-4 atau ke-5 setelah bunga mekar, kemudian akan memanjang, serta menuju dan menembus tanah untuk pembentukan polong. Pembentukan polong dimulai ketika ujung ginofor mulai membengkak, yaitu pada hari ke-40 sampai hari ke-45 setelah tanam atau sekitar satu minggu setelah ginofor masuk ke dalam tanah.

Pupuk Kandang Kotoran Kambing
Penambahan pupuk kandang bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah dan komposisi hara tanah. Tekstur dari kotoran kambing adalah khas, karena berbentuk butiran-butiran yang agak sukar dipecah secara fisik sehingga sangat berpengaruh terhadap dekomposisi dan proses penyediaan haranya.
Nilai rasio C/N pupuk kandang kambing umumnya masih diatas 30. Pupuk kandang yang baik harus mempunyai rasio C/N<20, sehingga pupuk kandang kambing harus dikomposkan. Kadar hara K pada pukan kambing relatif lebih tinggi dari pukan lainnya, serta kadar hara N dan P hampir sama dengan pukan lainnya (Hartatik et al., 2005 ).
Pengapuran
Menurut Buckman dan Brady (1964) bahwa pengapuran dapat meningkatkan pH tanah, sehingga pemberian kapur pada tanah masam akan merangsang pembentukan struktur tanah menjadi remah, mempengaruhi pelapukan bahan organik, dan pembentukan humus.
Pengapuran merupakan penambahan senyawa yang mengandung Ca dan Mg ke dalam tanah. Bahan kapur yang umum digunakan adalah kelompok karbonat, seperti dolomite dan kalsit. Kedua bahan kapur tersebut berbeda dalam kandungan unsur Ca dan Mg, dan kecepatan reaksinya dalam tanah. Dolomite mempunyai reaksi lebih lambat, tetapi kandungan Mg lebih banyak. Ca dan Mg sangat penting keseimbangannya didalam tanah dalam menunjang pertumbuhan tanaman (Wahjudin, 1992).

DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, T. 2005. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Penebar Swadaya. Jakarta. 88 hal.

Buckman, H.O. and N.C. Brady. 1964. The Nature and Properties of Soil. Macmillan Co. Mineapolis. Minessota. 567 p.

Departemen Pertanian. 2009. Kacang tanah. http://www.deptan.go.id. [18 Maret 2012].

Hartatik, W., D. Setyorini, L.R. Widodowati, dan S. Widati. 2005. Laporan Akhir Penelitian Teknologi Pengolahan Hara pada Budidaya Pertanian Organik. Laporan Bagian Proyek Penelitian Sumberdaya Tanah dan Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif.

Maesen, V. and S.Somaatmadja. 1992. Plant Resources of South East Asia No.1 Pulses. Prosea Foundation. Bogor.

Pitojo, S. 2005. Benih Kacang Tanah. Kanisius. Yogyakarta. 75 hal.

Trustinah. 1993. Biologi Kacang Tanah, hal 9-16. Dalam Kasno, A., A.Winarto dan Sunardi (eds). Kacang Tanah. Balai Penelitian Tanaman Malang. Malang.

Wahjudin. 1992. Pengaruh pemupukan kalium dan magnesium terhadap serapan hara dan produksi kacang tanah pada podzolik coklat kekuningan dari Gajrug. Banten. Forum Pascasarjana 15(1):1-10.