by: rizalm09.student.ipb.ac.id

Pemanfaatan Lahan Gambut Sebagai Perkebunan Sagu (Metroxylon spp.) untuk Mengatasi Pangan Nasional

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sagu (Metroxylon sagu Rottb) merupakan tanaman penghasil pati yang sangat potensial namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Tanaman sagu banyak dijumpai di Indonesia khususnya di daerah Indonesia bagian timur. Sagu merupakan bahan makanan yang menjadi makanan pokok masyarakat Maluku, Papua, Mentawai, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Sagu mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi bahan pangan pengganti beras untuk kedepannya. Sampai sekarang masih banyak masyarakat pedalaman di Indonesia mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok.
Tanaman sagu memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi kekurangan pangan nasional dan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makannan pokoknya. Kandungan kalori dan gizi sagu tidak kalah dengan sumber pangan lainnya. Oleh karena itu, mambangun ketahanan pangan nasional untuk kedepannya sagu dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi masalah tersebut (Bintoro et al., 2010). Dan kini kurang perhatiannya dari pemerintah produksi sagu nasional semakin menurun.
Sagu merupakan tanaman tahunan. Dengan sekali tanam, sagu akan tetap berproduksi secara berkelanjutan selama puluhan tahun. Tanaman penghasil karbohidrat lainnya seperti padi, jagung, ubi kayu, dan tebu merupakan tanaman semusim. Namun, untuk panen pertama paling tidak harus menunggu delapan tahun. Masa tidak produktif ini dapat dikurangi dengan menggunakan bibit anakan yang berukuran besar.
Sagu merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi yang tinggi. Dengan adanya permasalahan mengenai optimalisasi lahan marjinal, tanaman sagu menjadi salah satu tanaman yang dapat ditanam di lahan marjinal, bahkan dilahan kritis yang tidak memungkinkan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Penanaman sagu disepanjang areal pantai dapat dilakukan untuk mengurangi abrasi dan intrusi air laut. Sagau bermanfaat untuk bahan pangan, bioenergi, dan mampu menjaaga dari perusakan lingkungan secara alami, serta dapat juga menjaga ketersediaan air. Sagu masih dibudidayaan secara sederhana dan tidak intensif. Umumya sagu dibudidayakan secara liar di alam sebagai hamparan hutan sagu.
Tanaman sagu dapat mengkonversi air tanah, karena tanaman sagu menghendaki kelembapan tanah yang tinggi. Kawasan yang kadang tergenang air menjadi tempat yang disukai oleh sagu, tetapi jika kawasan tersebut selalu tegenang akan mempengaruhi pertumbuhan sagu diantaranya: pertumbnuhan sagu yang menjadilebih lambat, dan kadar pati didalam sagu juga akan rendah. Kawasan yang ditumbuhi sagu harus selalu dijaga kelembapannya sehingga dapat dibuat drainase pada kawasan pertumbuhan sagu. Sagu juga harus terhindar dari gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.
Tanaman sagu dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, 1) belum berkembang, berdrainase baik sampai buruk yaitu sulfaquent (mengandung bahan sulfidik), hydraquent (waterlogged), tropaquent (kawasan iklim tropika), flulvaquent (tanah alluvial), dan psammaquent (tanah berpasir); 2) tanah sedang berkembang berdrainase baik sampai buruk tropaquept dari sub golongan typic (norma) dan vertic (liat), tanah gambut troposaprist (taraf perombakan jauh), tropohemist (taraf perombakan menengah) dan sulfihemist (mengandung bahan sulfurist) dan tanah alluvial yang tertimbun gambut thaptohistic fluvaquent (Bintoro et al., 2010).
Tanaman sagu juga dapat ditanam pada lahan gambut, sudah banyak dikembangkan di Sumatra maupun Kalimantan. Sagu termasuk tanaman yang tidak susah untuk dibudidayakan, kareana kurangnya perhatian dari pemerintah maka produksi masih rendah walaupun Indonesia masih termasuk sedikit basah. Negara yang paling banyak menanam sagu. Lahan gambut adalah lahan yang asam kaya akan bahan organic dan dapat menyimpan air sehingga cocok untuk di tanam sagu karena sagu adalah tanaman yang menyukai keadaan lahan yang lembab atau basah.

SAGU DI LAHAN GAMBUT

1. Pengertian Gambut
Gambut merupakan kumpulan bahan organic yang telah melalui beberapa proses yaitu dekomposisi secara alami dengan waktu yang cukup lama. Tanah gambut banyak ditemukan didaerah Sumatra dan Kalimantan, walaupun keduanya mempunyai lahan gambut namun kandungan gambut di masing-masing daerah tersebut berbeda. Gambut terbentuk dari bahan tanam yang berlapis-lapis dalam jangka yang sangat lama. Timbunan bahan organic dalam lahan gambut membentuk gambut topogen. Dimana semakin tebal gambut dalam lahan tersebut akan semakin sulit akar tanaman untuk mencapai tanah mineral di bawahnya. Gambut yang semakin tebal maka unsur hara yang terkandung di dalam gambut semakin miskin atau rendah.
Gambut dapat dibedakan berdasarkan bahan penyusunnya, diantara lain: tigkat kesuburan, iklim, proses pembentukan, lingkungan, tingkat kematangan, dan ketebalan (Noor, 2001). Di Indonesia kebanyakan lahan gambutnya merupakan lahan gambut kayu. Lahan gambut yang berada di Indonesia terutama di pulai Sumatera dan Kalimantan, dalam pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan budidaya pertanian sehingga dapat di di bagi berdasarkan keteabalan, bahan penyusunnya, dan tingkat kematangannya.
Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, yaitu sekitar 21 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Namun karena variabilitas lahan ini sangat tinggi, baik dari segi ketebalan gambut, kematangan maupun kesuburannya, tidak semua lahan gambut layak untuk dijadikan areal pertanian. Dari 18,3 juta ha lahan gambut di pulau-pulau utama Indonesia, hanya sekitar 6 juta ha yang layak untuk pertanian (Rusli, 2008).
Gambut yang sudah matang ditunjukkan dengan warna cokelat gelap untuk gambut saprik, dan cokelat kemerahan ditunjukkan untuk gambut hemik, serta cokelat terang untuk gambut fibrik. Cara mengetahui dalam kematangan dan belum matangnya gambut dapat dilakukan dengan cukup mudah, diantaranya: gambut yang dikatakan matang apabila 2/3 atau lebih bagian keluar melalui celah jari genggaman dan sifat asli dari jaringan penyusun yang hamper tidak tampak lagi. Kedua, gambut dikatakan setengah matang jika sifat asli dari jaringan tersisa hanya sebagian kecil dan jika diperas hanya 1/3 yang keluar dari celah-celah jari gengaman. Ketiga, gambut dikatakan mentah jika sifat asli jaringan penyusunnya masih tampak dan saat diperas hamper tidak ada bagian bahan yang keluar dari celah jaringan tangan (Bintoro et al., 2010).
Ketebalan gambut dapat dikelompokkan ke dalam tipis yang kedalamannya kurang dari satu meter yang banyak dijumpai di pesisir atau tepi sungai, tebal dimana kedalamannya hingga lebih dari 30 meter dan umumnya terdapat dilingkungan air tawar (Sabiham, 2006). Dalam pemanfaatan lahan gambut untuk pertania dipengaruhi oleh tanah mineral. Kesuburan lahan gambut sangat beragam tergantung pada ketebalan gambut, lama dekomposisi, komposisi penyusun, mineral dibawah gambut, dan proses pembentukannya. Gambut yang tebal umumnya memiliki unsure hara yang lebih sedikit dibandingkan dengan gambut yang tipis, namun tidak semua gambut yang tipis lebih kaya unsure hara tetapi tergantung pada lapisan mineral yang berada di bawah lapisan gambut (Sabiham, 2006).
Pemanfaatan lahan gambut yang kurang sesuai dengan kegiatan pertanian akan mengakibatkan lahan gambut terdegradasi. Dalam memanfatkan lahan gambut secara beberapa tahun dapat mengakibatkan ketebalan gambut menipis dan keasaman tanah menjadi lebih tinggi. Pengelolaan gambut dengan baik lahan dapat digunakan untuk budidaya tanaman pangan dan jika kurang tepatnya dalam pengeloaan maka usaha tersebut akan gagal. Produktivitas lahan gambut sangat rendah hal tersebut dikareanakan rendahnya ketersediaan hara, tingginya kandungan asam tanaman yang dapat menjadi toksik bagi tanaman dan derajat kemasaman yang tinggi atau pH yang rendah.
Penggunakan lahan gambut yang tidak mengikuti dengan peraturan penanaman maka menyebabkan fungsi dan karakteristik dari gambut menjadi rusak. Ketidaktepatan dalam pengelolan lahan gambut dapat member dapak yang negatif untuk bumi karena lahan gambut dapat melepas CO2 dan CH4 yang dapat meningkatkan pemanasan global.

2. Prospek dan Pemanfaatan Tanaman Sagu
Pati sagu merupakan bahan pangan yang dapat menggantikan beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Tanaman sangat bermanfaat mulai dari daun hingga batangnya. Tanaman sagu juga memiliki beragam manfaat yang tidak dimiliki tanaman lainnya. Daun sagu masih digunakan sebagai atap rumah yang banyak dijumpai pada masyarakat pedalaman. Pelepah sagu juga dapat digunakan sebagai dinding, dan lidi sagu dapat digunakan sebagai sapu serta ampasnya dapat dimanfaatkan sebagai pulp untuk pembuatan kertas atau pakan ternak. Selain itu sagu juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar alternative.. Batang sagu memiliki kandungan pati yang cukup tinggi. Sagu merupakan tanaman karbohidrat tertinggi per satuan luas dalam satu batang sagu terdapat pating dari 200-400 kg, bahkan di Jayapura pohon sagu mengandung pati hingga dari 800-900 kg/pohon sagu (Kanro, 2003).
Bintoro (2000) menyatakan bahwa pati sagu dapat digunakan sebagai makanan pokok, bahan baku makanan ringan, bahan baku berbagai macam industri makanan, pakan hewan, dan limbah sagu dapat digunakan sebagai kompos, media tanam, pakan ternak, dan kerajinan tangan. Bahkan di Negara maju sudah mulai mengembangkan hasil olahan, seperti pada Negara Jepang yang susah untuk menanam tebu sebagai bahan baku pembentuk gula. Jepang membuat gula cair dari fermentasi pati, dan harganya lebih murah disbanding denan harga gula Kristal. Selain itu juga sagu memiliki potensi yang baik untuk bahan bakar, karena pati sagu mengandung etanol. Sagu juga banyak dimanfaatkan sebagai penyedap makanan.
Menurut Bintoro (1999) ada beberapa manfaat sagu antara lain:
1. Sebagai bahan pangan utama
2. Sebagai bahan baku industri non pangan, misalnya industri tekstil, kosmetik, farmasi, pestisida, plastik, kertas, kayu lapis, makanan dan minuman.
3. Bahan energi
4. Tanaman sagu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komoditi yang dikembangkan untuk mengurangi krisis energi saat ini selain ubi kayu dan jarak pagar. Tepung sagu diolah menjadi etanol yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti bensin yang ramah lingkungan.
5. Sebagai bahan baku industri pangan: mie, so’un, kue, dodol, kerupuk dan lain-lain.
6. Sebagai pakan ternak, yaitu untuk bahan campuran makanan ternak seperti dengan kedelai. Campuran ransum sagu dengan kedelai dapat digunakan sebagai pakan ayam broiler.

3. Karakteristik Tanaman Sagu
Tanaman sagu termasuk tumbuhan monokotil, taksonomi tanaman sagu meliputi: Ordo: Spadiciflora, Famili: Palmae, Genus: Metroxylon, Spesies: Metroxylon spp. Bagian terpenting dari tanaman sagu adalah batang. Batang sagu berfungsi sebagai penyimpanan cadangan makanan berupa karbohidrat. Sagu memiliki daun sirip, menyerupai daun kelapa yang tumbuh pada tangkai daun. Bunga sagu majemuk yang keluar dari ujung batang sagu, yang brewarna merah kecoklatan. Dalam mendapatkan ketetapan budidaya dan pemeliharaan tanaman sagu, serta panen dipengaruhi oleh masa pembungaan dan pertumbuhan.

4. Persyaratan Tumbuh Tanaman Sagu
Tanaman sagu dapat tumbub baik pada ketinggian tempat 400 m dpl, apabila lebih dari 400 m dpl pertumbuhan tanaman akan lambat dan kadar patinya rendah. Sagu dapat tumbuh pada berbagai kondisi hodrologi dari yang terendam sepanjang masa sampai ke lahan yang tidak kerendam air. Tanaman sagu termasuk tanaman yang memerlukan sinar matahari dalam jumlah yang banyak. jika tanaman ternaungi akan tanaman sagu akan menyebabkan kadar pati menjadi rendah selain itu juga dapat memgahmbat pertumbuhan sagu.

Suhu udara terendah dalam pertumbuhan sagu adalah 15oC, pertumbuhan terbaik terjadi pada kisaran suhu 24-30 oC. Curah hujan yang cocok untuk tanaman sagu adalah 2500-3500 mm dan jumlah hari ujan tahunan antara 142-209 hari. Sagu juga dapat tumbuh pada kawasan yang memiliki bulan basah lebih dari 3-9 bulan.

5. Penyebaran Sagu
Penyebaran sagu di Indonesia dimulai dari Maluku dan Papua hingga menyebar ke seluruh Nusantara diantaranya: Irian Jaya, Maluku, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, dan jawa. Bintoro (2008) menyatakan bahwa tanaman sagu merupakan tanaman asli Indonesia banyak ditemui di Papua.spesies terbanyak terdapat di daerah Papua. Zona penyebarannya tidak mencerminkan batas potensi produksinya. Di Indonesia sagu juga terdapat di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan lebih 50% sagu Indonesia tumbuh di Papua.
Di kawasan tersebut hutan sagu ditemukan pada lahan-lahan dataran rendah sampai dataran tinggi hingga mencapai 1000 m dpl, sepanjang tepi sungai, ditepi danau ataupun di rawa-rawa dangkal. Luas penyebaran hutan dan kebun sagu di Indonesia mencapai 56.5% dari penyebaran sagu dunia, namun selama ini pemanfaatannya masih sangat rendah. Selama ini sagu hanya dijadikan sebagai bahan pangan oleh sebagian kecil masyarakat bagian Timur Indonesia dan sebagai pelengkap tepung lainnya dalam pembuatan makanan tradisional. Jadi, potensi sagu untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol sangat besar. Di Filipina bagian Selatan hingga Pulau Rote tanaman sagu dapat tumbuh dengan baik.

6. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan produksi Sagu serta Pemeliharaan Pada Tanaman Sagu
6.1. Jarak Tanam
Tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal harus memiliki jarak antar tanaman yang jelas. Jarak tanaman menentukan populasi tanaman dalam suatu luasan tertentu, sehingga pengaturan yang baik dapat mengurasi kompetisi terhadap faktor tumbuh tanaman sagu. Pengaturan jarak tanam dapat menekan kompetisi antara tanaman budidaya itu sendiri maupun tumbuhan gulma.

Penanaman sagu di perkebunan dikenal dengan sistem blok. Jarak tanam pada sistem blok bervariasi antara 8-10 meter, sehingga satu hektare hanya menampung ± 150 tanaman. Jarak Tanman 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m di gunakan pada kebun yang menanam dengan cara monokultur. Jika jarak tanaman 10 m x 10 m dalam bentuk segi empat, maka populasi awalnya 100 tanaman/ha, tetapi jika jarak tanamnya bentuk segi tiga sama sisi maka populasinya 136 tanaman/ha. Dan apabila tanaman sagu di tumpangsarikan dengan tanaman lain maka dapat digunakan jarak tanam 10 m x 15 m. selain itu pada jarak tanam10 m x 15 m juga dimaksudkan mengoptimalkan ruang dalam pengaturan anakan sagu dan pemanfaatan cahaya (Bintoro et al., 2010).

6.2. Pengendalian Gulma
Definisi gulma merupakan tumbuhan liar yang tidak diharapkan kehadirannya dan dapat mengganggu tanaman pokok. Pengendalian gulma di perkebunan sagu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sagu. Gulma akan menyebabkan tanaman utama terhambat pertumbuhan dan perkembangannya terutama jika gulma telah ada pada fase kritis tanaman sagu (Amarillis, 2009).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual atau kimia, yaitu dengan menggunakan herbisida. Pengendalian dilakukan di sekitar piringan tanaman sagu dan pada lorong. Pengendalian gulma juga bertujuan memudahkan dalam operasional kebun. Pengendalian gulma pada piringan akan mengefisienkan pupuk yang diberikan dan menghindari hama penyakit.

6.3. Hama dan Penyakit Tanaman Sagu
Hama yang dominan menyerang tanaman sagu adalah kumbang Oryctes rhinoceros L, kumbang Rynchoporus sp., dan Artona spp. Pengendaliannya dapat secara mekanis, kimiawi dan biologis. Secara mekanis dilakukan dengan menebang pohon sagu yang terserang lalu dibakar. Secara kimiawi menggunakan insektisida seperti Heptachlor 10 gr, Diazine 10 gr, BHC dan lain-lain. Sedangkan secara biologis dilakukan dengan menyebarkan serangga musuh alami dari serangga perusak tanaman sagu.
Penyakit yang menyerang adalah bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora. Pemberantasan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan fungisida atau dengan sanitasi lingkungan (Haryanto dan Pangloli, 1992).

6.4. Pemupukan
Dalam meningkatkan potensi tanaman terutama dalam meningkatkan produktivitas maka perlu masukan nutrisi untuk tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang lebih baik. Pemupukan merupakan tindakan budidaya yang penting sebagai upaya menyediakan unsur hara tanaman sehingga diperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal. Pemupukan dilaksanakan dua minggu setelah pengendalian gulma (Dewi, 2009).
Pupuk adalah bahan organic maupun bahan anorganik yang diberikan pada tanah untuk mengganti unsure hara yang hilang dari dalam tanah dan berfungsi untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Tidak lengkapnya unsure hara makro dan mikro di dalam tanah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman sagu. Pada tanaman sagu rakyat tidak pernah dilakukan pemupukan. Tanaman sagu akan tumbuh dengan baik apabila hara di dalam tanah tersedia cukup. Menurut Flach dalam Bintoro (2008), apabila dalam 1 ha dipanen 136 batang sagu maka hara yang terangkut panen sebanyak 100 kg N, 70 kg P2O5, 240 kg K2O dan 80 kg MgO serta berbagai unsur mikro. Oleh karena itu pemupukan sangat perlu dilakukan agar unsur hara yang dibutuhkan tanaman sagu tersedia sehingga produksi yang tinggi akan tercapai.
Menurut Bintoro (2008), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan sebelum mengadakan pemupukan, perencanaan menyangkut kondisi dan waktu yang tepat dalam pemupukan seperti tersedianya pupuk, tenaga kerja, cuaca dan alat pengangkut pupuk.
2. Menghindari tercecernya pupuk di sepanjang jalan atau areal penanaman.
3. Penempatan pupuk yang tepat dan sesuai dengan dosis anjuran.
4. Tidak mengenai pelepah daun dan lingkaran piringan tanaman sagu harus bersih dari gulma dan sampah.
5. Dalam pelaksanaan pemupukan di lapangan unsur makro ditanam disekeliling tanaman dengan sistem empat penjuru (membuat tugal atau lobang tanam).
6. Unsur mikro ditabur di seputar lingkaran tanaman yang sudah bersih dengan kriteria tidak terlalu dekat dengan batang tanaman (kurang lebih 50 cm dari rumpun tanaman).
Beberapa jenis pupuk dan dosis pemupukan.

6.5. Penjarangan Anakan
Setelah sagu tumbuh subur, biasanya di sekeliling bokoran akan muncul tunas-tunas yang lama-kelamaan berkembang menjadi anakan sagu. Pertumbuhan anakan sagu tersebut selain akan menyebabkan tegakan tanaman semakin rapat yang dapat menyulitkan pemeliharaan dan pemanenan, juga akan menjadi saingan bagi pohon induk untuk mendapatkan unsur hara dari tanah maupun cahaya matahari. Persaingan tersebut dapat menyebabkan kandungan aci dalam batang sagu berkurang dan menghambat pertumbuhan batang utama. Dengan demikian produktivitas akan menurun. Oleh karena itu harus dilakukan penjarangan anakan atau pemangkasan anakan.
Menurut Bintoro (2008) agar tanaman sagu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka dalam satu rumpun maksimal terdapat 10 tanaman dengan berbagai tingkat umur. Dalam 1-2 tahun hanya diperbolehkan satu anakan sagu yang boleh tumbuh. Dengan demikian dalam 1-2 tahun akan panen 1 pohon sagu. Menurut Tong dalam Haryanto (1992) penjarangan tegakan pohon dalam kebun-kebun sagu idealnya sekali dalam setahun. Jumlah pohon yang disisakan atau dibiarkan tumbuh dalam satu rumpun tergantung dari jenis dan spesies sagu dan tingkat pertumbuhannya.

6.6. Taksasi Tanaman Sagu
Taksasi produksi berguna untuk memperkirakan panen. Taksasi dilakukan untuk mengetahui jumlah tanaman setiap fase pertumbuhan. Jumlah tanaman yang dapat dipanen akan menentukan banyaknya pemasukan bagi perusahaan. Menurut Henanto (1996) di Propinsi Bengkulu rata-rata pohon sagu yang dapat ditebang per hektar hanya 11 batang. Taksasi produksi dilakukan di empat divisi. Divisi-divisi tersebut mempunyai jarak tanam 8 m x 8 m. Jarak tanam menentukan jumlah tepung yang akan didapat.
Menurut Bintoro (1999) apabila, jarak antara tanaman yang terlalu dekat maka pohon sagu yang dapat dipungut hasilnya hanya sedikit sekali. Di kawasan yang tumbuh sagunya tidak dominan seperti di kawasan Kalimantan Selatan, rata-rata pohon sagu yang dapat dipanen sekitar lima pohon/hektar/tahun, padahal di serawak pohon sagu yang dapat dipanen sekitar 150-250 pohon/hektar/ tahun dan produksi tepungnya sekitar 150-250 kg/ pohon. Taksasi produksi mempunyai dua masalah utama. Masalah tersebut adalah ketepatan jumlah contoh dan metode yang digunakan. Metode dan jumlah contoh yang digunakan tepat apabila, hasil taksasi produksi mendekati sesungguhnya.

6.7. Teknologi Perbanyakan tanaman sagu
Teknologi perbanyakan tanaman sagu dapat dilakuan dengan metode generatif dan vegetatif. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohonnya. Biji yang digunakan adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik, yang subur dan produksinya tinggi (Bintoro et al., 2007).
Perbanyakan tanaman sagu secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (jangan yang berasal dari stolon).

7. Budidaya Sagu di Lahan Gambut
7.1. Persiapan Bahan Tanam
Persiapan bahan tanam di butuhkan untuk menyeleksi penggunakan bibit unggul yang berkualitas baik, bebas dari hama dan penyakit tanaman sehingga bibit tanaman di tanam di lapangan dengan persentase hidup yang tinggi.

7.2. Seleksi Bibit
Bahan tanam didapatkan dari anakan yang tumbuh n pada tanaman induk. Anakan adalah bagian dari tanaman induk yang mempunyai perakaran yang mandiri. Kreteria anakn sagu (abut) yang sehat dan berkualitas adalah pohon induk pada rumpun yang abutnya akan diambil telah mencapai usia dewasa atau telah dipanen, bibit masih segar pelepah berwarna hijau, abut tidak mudah bergerak jika digoyang-goyangkan, memiliki bobot 1,5 kg hingga 5 kg, kondisi sehat tidak terkena hama penyakit, memilikiakar yang banyak, tempat penyimpanan bahan makanan berwarna merah muda dank eras, diutamakan abut yang memiliki perakaran berbentuk “L”, karena memiliki jumlah cadangan makanan yang banyak.
Kemampuan hidup anakan sagu berbeda-beda menurut jenis tanah tempat persemaiandilakukan dan fase indukan sagu saat anakan sagu diambil. Biasanya anakan sagu diambil untuk bibit sagu yang akan disemai diperoleh dari tanaman sagu yang sudah dekat fase berbunga dan tanaman sagu yang sudah membentuk batang muda (Bintoro, et al., 2010).

7.3. Persemaian
Yang dimaksudkan dengan persemaian (Nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman sagu karena itu sangat dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman sagu Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu.
Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam), misalnya untuk Pinus merkusii setelah tinggi semai antara 20-30 cm atau umur semai 8 – 10 bulan. Pengadaan bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang lebih menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Selain pengawasannya mudah, penggunaan benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.

8. Persiapan Lahan
8.1. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam disiapkan untuk penanaman bibit tanaman sagu yang telah di persiapkan sebelumnya. Ukuran lubang tanah yang dibuat adalah 30 cm x 30 cm x 30 cm atau menyesuaikan dengan ukuran bibit. Bagian bawah bibit yang akan ditanam di usahakan menyentuk permukaaringan. Apabila n air agar terhindar dari kekeringan. Apabila permukaan air tanah sangat dalam, maka lubang tanam di gali sampai 60 cm, setelah lubang tanam selesai di buat maka bibit dapat segera di tanam.
Bibit yang di tanam harus melalui selek si agar bibit yang digunakan berkualitas. Dan sebelum penanaman lubang tanah di bersihkan untuk menghindari penyakit yang menyerang pada bibit sagu.

8.2. Penanaman
Penanama dilakukan pada bibit yang berumur tiga bulan dan telah memiliki 2-3 helai daun baru serta memiliki perakaran yang baik. Penanaman musim hujan persentasi hidupnya lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Kelembapan tanah dan suhu yang tinggi akan menentukan persentase hidup bibit sagu.pengangkutan bibit sagu akan lebih mudah jika persemaian dilakukan berdekatan dengan lahan perkebunan sagu.
Cara penanaman dilakukan dengan membenamkan banir ke dalam lubang tanam. Bagian pangkal banir ditutup dengan tanah remah bercampur gambut. Tanah penutup di tekan dan diatur sehingga banir tidak mudah bergerak. Akar-akar tanaman yang di benamkan pada tanah penutup lubang dan pangkalnya agak di tekan sedikit ke dalam tanah (Bintoro, et al., 2010).

8.3. Panen
8.3.1. Ciri dan umur panen
Panen dapat dilakukan umur 6 -7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10 – 15 m, diameter 60 – 70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50 – 60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang. Menurut Anonim (2000) menyatakan bahwa cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku adalah sebagai berikut :
a. Tingkat Wela/putus duri, yaitu suatu fase dimana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah, tetapi dalam keadaan terpaksa pohon ini dapat di panen.
b. Tingkat Maputih, ditandai dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pandek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
c. Tingkat Maputih masa/masa jantung, yaitu fase dimana semua pelepah daun telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu ihur (Metroxylon sylvester Martius)
d. Tingkat siri buah, merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis Metroxylon longisipium Martius

8.3.2. Cara Panen
Langkah-langkah pemanenan sagu adalah sebagai berikut :
a. Pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan di potong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
b. Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
c. Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6 – 15 meter. Gelondongan dipotong – potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah + 120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm.

8.4. Tata Kelola Air di Lahan Gambut
Pembuatan kanal berfungsi untuk mengalirkan aair agar terjangkau pada wilayah kebun sagu. Pembatan kanal menjadi prasarana sangat penting dalam tata kelola air untuk menunjang aktivitas kebun terutama dilahan gambut, yang seseuai dengan karak teristik lahan gambut bahwa gambut menyukai tempat yang lembab.
Kanal sekunder adalah kanal yang digali tegak lurus terhadap kanal utama (melintang pada blok dan kanal utama). Kanal ini berfungsi sebagai pembatas antara empat blok sagu disebelahnya; sebagai jalur transportasi sagu dari kebun dan atau kanal tersier ke kanal utama. Lebar kanal sekunder adalah 2 m. Kanal tersier adalah kanal yang digali pada pertengahan blok atau di antara dua blok atau melintangi di antara blok – blok yang saling berseberangan dan sebagai jalur transportasi dari kebun sagu bagian dalam, ke sungai atau kanal utama, atau ke kanal sekunder atau juga ke kanal tersier melintang dan sebaliknya. Lebar kanal tersier adalah 1,5 m (Anonim, 2012).
Untuk menunjang fungsi kanal tersebut tetap optimal maka dilakukan kegiatan perawatan yang biasa disebut pencucian kanal. Kegiatan tersebut dilakukan secara mekanis dengan alat ekskvator. Teknis pencucian kanal dilakukan dengan mengangkat gumpalan tanah pada dasar kanal dengan menggunakan alat penggaruk ekskavator.

Daftar Pustaka

Anonim. 2000. Sagu. http://www.warintek.ristek.go.id. [1 April 2012]
Anonim. 2012. Pemeliharaan dan Pemupukan Sagu. http://agromaret.com. [1 April 2012]
Amarilis, Sandra. 2009. Aspek Pengendalian Gulma di Perkebunan Sagu (Metroxylon sp.) PT National Timber and Forest Product unit HTI Murni Sagu Selat Panjang, Riau. Skripsi. Departemen Agronomi Hortikultura IPB. Bogor.
Bintoro, H.M.H. 2008. Bercocok Tanam Sagu. IPB Press. Bogor. 71 hal.
Bintoro, M.H, M.Y.J. Purwanto, dan S. Amarillis. 2010.Sagu di Lahan Gambut. IPB Press. Bogor. 165 hal.
Bintoro, M.H. 1999. Pemberdayaan tanaman sagu sabagai penghasil bahan pangan alternative dan bahan baku agroindustri yang potensial dalam rangka ketahanan pangan nasional. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian, IPB. Bogor. 69 hal.
Bintoro, M.H., N. Mushud, dan H. Novarianto. 2007. Sattus Teknologi Sagu (Metroxylon sagu sp.). Prosiding Lokakarya Pengembangan Sagu di Indonesia Batam, 25-26 Juli 2007. Pusat Penelitian dan Pengembangan perkebunan. Bogor. 76-94 hal.
Bintoro, M.H. 2000. Country Report of Indonesia Sago Situation in Indonesia. Proceeding of Sago 2000. IPB Press. Hal 27-28.
Dewi, R. K. 2009. Pengelolaan Sagu (Metroxylin Spp.) Khususnya Aspek Pemupukan di PT. Nasional Timber and Forest Product, Selat Panjang, Riau. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian. Bogor.
Haryanto, B. dan P. Pangloli. 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius. Yogyakarta. 140 hal.
Henanto, H. 1996. Kajian Potensi Sagu di Propinsi Bengkulu. Simposium nasional Sagu III.Universitas Riau. Pekanbaru. hal: 165-171.
Kanro, M. Z., A. Rouw, A. Widjono, Syamsuddin, Amisnaipa, dan Atekan. 2003. Tanaman Sagu dan Pemanfaatannya di Propinsi Papua. J. Litbang Pertanian. 22(3).
Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut. Kanisius. Yogyakarta. 174 hal.
Rusli, Y. 2007.Pengembangan sagu di Indonesia: strategi, potensi dan penyebarannya. Prosiding Lokakarya Pengembangan Sagu di Indonesia Batam, 25-26 Juli 2007. Pusat Penelitian dan Pengembangan perkebunan. Bogor. 14-24 hal.
Sabiham, S. 2006. Pengelolaan Lahan Gambut Indonesia Berbasis Keunikan Ekosistem. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Pengelolaan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 16 September 2006. 124 hal.