Category: Semester 7

Hari ini, Selasa 13 November 2012 proyek pasca panen dimulai, pengolahan teh yang diwakili oleh dua kelompok. Teh didapatkan dari PT. PN VIII Gunung Mas Puncak. Ini merupakan kegiatan Praktikum pada mata kuliah Pasca Panen tanaman pertanian. Setiap mahasiswa yang tergabung dalam kelompok akan di bagi proyek yang akan dikerjakan, misal pada kelompok saya adalah proyek pengolahan teh hijau.

Teh diambil pada hari Senin jam 10 pagi hingga jam 5 sore, setiap kelompok mendapatkan 20 kg teh petik. Teh yang sudah dipetik ditaruh karung dan ditutup. Setelah semalam di tutup dan tidak di ratakan teh menjadi coklat sebelum proses pelayuan. Proyek pengolahan teh dimulai dengan analisis pucuk daun teh yang dilaksanakan di Cikabayan. Setelah semuanya dianalisis teh diolah di F-technopark Fakultas Teknologi Pertanian, alhamdulilah ada juga alat pengolahan teh, sehingga kami tidak jadi menggunakan alat sederhana yaitu nyangrai sendiri :)

Alat yang ada di FATETA sudah termasuk canggih walau agak jadul, hehe :) Proses pengolahan berjalan cepat, awal pengolahan saat di FATETA adalah dengan melayudan daun dengan cara menguapkan daun teh sebanyak satu kali, setelah di uapkan daun di rolling di mesin pemutar yang tujuannya untuk mengeringkan daun dan mengurangi kadang air daun selama 15 menit. Stetal di rolling daun teh di taruh pada alat penggelintingan, dimana fungsinya agar daun teh mengelinding selama 15 menit. dan proses tahapan terakhir adalah pengovenan, pengovenan dilaksanakan 1-2 jam hingga daun kering dan berbau harum.

Setelah daun teh kering dianginkan di ruang AC agar teh tidak terlalu kering, jika teh terlalu kering maka menimbulkan banyak karbon. Setelah dianginkan semalam teh siap dikemas sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Teh terasa nikmat jika dihidangkan dengan air hangat dan jamuan gorengan lainnya. :)
Semoga apa yang dilakukan hari ini memberikan manfaat yang sangat besar, amin :)

Proses Pelayuan atau Pengasapan
Mesin Roller, Untuk Pengeringan
Mesin Penggelintingan Daun Teh
Pemindahan Dari Proses Penggelintingan ke Proses Pengovenen
Teh Siap DI Oven
Teh Mulai Kering saat Proses Pengovenan

Tanaman hias terbagi menjadi beberapa jenis:

1. Bunga Potong: tidak mensuplai nutrisi dari induknya, dan kesegarannya tergantung penanganan pascapanen
Contoh bunga potong: mawar, anggrek, krisan
2. Daun Potong: beraneka ragam,mulai dari variegata, tekstur, bentuk
3. Tanaman hias pot:
– Tanaman hias pot berbunga: Krisantemum, Poinsettia (bunga Natal dimana daun akan berubah warna karena
perlakuan hari pendek, tergantuk genetik), Kastuba/Euphorbia pucerlia, Salvia, Begonia, Pentas lanceolate,
Petunia impatiens (pacar air), Bougenvilla, Adenium, Aeschyanthus pulcherima (Bunga lipstik), Anthurium,
Amarilis, Geranium (Pelargonium), Kalanchoe (Cocor bebek), Gloxinia dan Gerbera (bisa dijadilkan bunga
potong karena tangkai bunga panjang dan daya tahannya lama). Dianthus barbatus, Earcopillus,
Violces/Saintpaulia (vegetatif dengan stek daun)
– Tanaman hias pot daun (Aglaonema, Codiaeum/Puring, Dieffenbachia/Damken), batang, akar
Tanaman hias pot: indoor (suhu kamar dan membutuhkan kelembaban), atau outdoor (suplai cahaya matahari)
4. Tanaman landscape (pohon, semak, rumput, tanaman bedengan)

Kualitas penting dan sangat menentukan harga jual.

FAKTOR PRA PANEN BUNGA POTONG:

1. Genetik tanaman
– Vaselife (masa kesegaran bunga potong/fase dimana 50%bagian dari bunga sudah layu), tergantung spesies, vaselife diwariskan.
– Anthurium dan Anggrek memiliki vaselife lebih lama dibandingkan mawar dan anyelir

2. Cahaya : mengatur fisiologi, pigmen, dll. Intensitas cahaya harus tinggi.

3. Suhu: Suhu rendah dapat menurunkan kualitas dan vaselife pada pasca panen karena mempercepat penurunan cadangan makanan.

4. Kelembaban: dapat mendorong perkembangan patogen. Bunga yang rusak menyerap air dengan cepat dan kandungan etilen banyak.
Kelembaban rendah dapat mempertahankan polutan yang terbawa air sehingga mudah terserap melalui kutikula/stomata
Penyimpanan bunga potong RH 90-95%

5. Nutrisi/hara mineral, contoh: Rasio NPK menentukan terjadi atau tidaknya inisiasi bunga

6. Irigasi: Stress air baik kelebihan atau kekurangan akan mengakibatkkan daya tahan bunga potong menurun, peningkatan laju transpirasi dibanding laju absorbsi.

7. Musim

8. CO2: Peningkatan CO2 dapat meningkatkan fiksasi, laju fotosintesis, pertumbuhan bunga, mempersingkat wakt produksi, hasil dan kualitas tinggi.
Kedelai merespon pada titik kompensasi (tanaman C3), sedangkan jagung tidak merespon terhadap pengkayaan CO2 (tanaman C4).
Krisan, Begonia (700-900 ppm). Mawar, Tuli, Anyelir (1000-1500 ppm).

9. Penggunaan bahan kimia: ZPT seperti BA, IAA, GA3, Retardan, Giberelin.
Retardan: Memendekkan ruas batang, menghambat biosintesis Giberelin, Meningkatkan lignin dan memperlambat laju transpirasi.
Giberelin: Memanjangkan ruas.
Bahan kimia atau ZPT berpengaruh terhadap produksi, kualitas hasil dan pascapanen bunga potong.

10. Kerapatan tanaman

11. Prunning

12. Stadia Panen: Stadia panen optimal, vaselife maksimal.
Panen saat kuncup bunga atau masih etrlalu muda, bunga bisa gagal mekar.

Waktu panen yang tepat tergantung tipe tanaman dan iklim. Panen ketika suhu agak dingin atau rendah, karena suhu tinggi meningkatkan laju respirasi dan kehilangan air berlebihan pada jaringan tanaman, sehingga sebaiknya panen pada pagi hari (Mawar, Krisan, Gerbera) dan sore hari. Pagi hari turgiditas sel meningkat dan air tidak menguap banyak.

Metode Panen: Intensif, padat modal, dan padat tenaga kerja pada buga potong. Alat tepat dan batang tidak tergores, kadang ada yang dengan sistem pencabutan.
Memperhatikan pemotongan dari pohon induk, misal pada Mawar ditinggalkan 2 daun terbawah pada cabang produksi bunga.

Bunga Tropik: Mawar, Helieonia, Comprangan, Anthurium (suhu bunga induksi 0-5)

Yang Mempengaruhi Kelayuan:
1. Transpirasi,
2. Respirasi
3. Etilen,
4. Mikroba

FAKTOR PASCAPANEN BUNGA POTONG

1. Suhu
Suhu tinggi mempercepat bunga mekar dan senesen
Suhu rendah menekan laju rspirasi, kehilangan air rendah, produksi etilen dan pertumbuhan mikroorganisme juga rendah.
Suhu optimal bunga tropik setelah panen 8-15 °C. Suhu yang lebih rendah akan mengakibatkan diskolorasi, deteriorasi/bunga gagal mekar.
Suhu penyimpanan bunga tropik 0-2 °C

2. Cahaya
Cahaya tidak mempengaruhi masa simpan, kecuali Aistromeria.
Pertumbuhan ke arah cahaya matahari/Fototropisme: Gladiol, Snapdragon.
500-1000 klx untuk krisan selama penyimpanan.
Radiasi UV membuat petal Mawar menghitam

3. Kelembaban
Kelembaban rendah mempercepat kehilangan air, bunga layu jika kehilangan 10-15% berat segarnya. Tetapi kelembaban yang sangat tinggi juga dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme.
Kelembaban optimum 90-95%.
Paling bagus jika suhu rendah dan kelembaban tinggi.

4. Kualitas Air

5. Embolisme
Embolisme adalah hambatan penyerapan air melalui xilem dalam tangkai bunga karena ada gelembung udara dalam pembuluh xilem.
Cara mengurangi embolisme:
– Memotong tangkai dari bawah sekitar 1 inchi dalam air hangat
– Menggunakan larutan dehidrasi dengan pH rendah (kemasaman tinggi), pH 3-4, bisa dengan asam sitrat, asam salisilat, asam asetat/cuka.

6. Etilen: hormon berbentuk gas, mempercepat senesen/penuaan.
Kondisi udara normal, etilen 0.003-0.005 μL/L
Sumber etilen: Tanaman sendiri, mikroorganisme, gas vulkanik, By product dari industri, mesin-mesin.

Sensitif etilen: Anyelir, Euphorbia, Iris, Lily, Anggrek, Petunia, dll.

Cara menurunkan produksi etilen:

– Melindungi bunga dari serangan OPT
– Mencegah polinasi oleh serangga
– Pemanenan pada stadia yang optimum
– Pendinginan bunga segera setelah panen
– Sanitasi Green House dan ruang penanganan pascapanen
– Menghindari penyimpanan bersamaan dengan buah
– Eliminasi sumber mesin
– Ventilasi udara harus baik

7. Bahan Pengawet
Kandungan: Kerbohidrat, Asam Organik(menurunkan pH sehingga embolisme tidak terjadi), Germisida (antimikroba: Sodium hipoklorit), Inhibitor etilen.

Gula: Sumber energi, menjaga struktur dan fungsi mitokondria, memperbaiki keseimbanagn air dengan mengatur transpirasi, dan meningkatkan pengambilan air.
Yang biasa digunakan: Sukrosa, konsentrasi bervariasi bisa sampai 30%.

Mikroba pada larutan vas: Bakteri, Ragi, Molds.
Efek: Menyumbat xilem, menghasilkan senyawa toksin dan etilen.

Jenis germisida diantaranya silver nitrat, thiobendazole, alumunium sulfat, 8-hydroxyquinoline sulfat
Komposisi pengawet: Sitokinin, Retardan.

TAHAPAN PANEN DAN PASCAPANEN BUNGA POTONG

1. Pemanenan (cutting)
2. Pengumpulan hasil panen
3. Pengangkutan ke ruang Pascapanen
4. Trimming : membuang bagian yang tidak perlu
5. Selection/sortir: pemisahan yang baik dan yang cacat/rusak
6. Grading/pengkelasan: Mengelompokkan hasil sortiran
7. Packaging/ pengemasan : Memudahkan penanganan, meberi penampilan, dan melindungi produk
8. Pulsing : Pemberian nutrisi tertentu sebelum dijual
9. Packing : Pengepakan
10. Storage (Penyimpanan)
11. Transportation

Teh Karya Mahasiswa AGH

Mata Kuliah Pasca Panen Pertanian mewajibkan mahasiswanya melakukan proyek yang tentunya menangani pasca panen. Saya kebetulan mendapatkan penangnanan pasca panen tanaman teh. Seperti artikel yang pernah saya buat mengenai pengolahan teh hijau, itu merupakan proses pengolahan yang kami lakukan di F-Technopark FATAETA IPB.

Teh segar didapatkan dari PT. PN VIII Gunung Mas Puncak Bogor. Setelah melalui beberapa proses dapatlah teh dengan kemasan seperti dibawah ini. Teh dibawah ini merupakan produk dari kami, walau mahasiswa kita dituntut untuk dapat menguasai dari segi budidaya-pasca panen-marketing.

Alhamdulilah rasa teh yang kami buat memiliki rasa teh yang khas, dan bau teh yang harum. Teh Hijau dari bahan pilihan danb melalui beberapa tahap menghasilkan teh yang berkualitas.

Kenikmatan teh ini teruji setelah di coba ke beberapa tester, rasa yang khas dan bau harum menjadi ciri khas teh HAYA tea ini. Mau coba? Pesan segera :)

Kami siap juga melayani pemesanan diluar jawa, pengiriman dan packaging seperti gambar dibawah:

tf

tt

Bagi yang ingin mendapatkan PPT. dari PAsca Panen Teh Hijau dapat diperoleh disi, 2300

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang berkembang sangat pesat di Indonesia dan memberikan kontribusi penting dalam pembangunan ekonomi. Meningkatnya permintaan kelapa sawit dalam bentuk minyak nabati mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit (Sari, 2008). Meningkatnya perkembangan industri kelapa sawit sejalan dengan meningkatnya limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Oleh karena itu diperlukan metode penanganan limbah kelapa sawit yang tepat dan optimal untuk diterapkan, agar limbah kelapa sawit yang terus meningkat dapat diatasi dengan baik, dengan mengolah kembali limbah sehingga dampak negatif yang ditimbulkan limbah dapat diminimalkan.

Limbah yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit diantaranya adalah limbah padat dan limbah cair. Limbah padat umumnya digunakan untuk sumber pakan ternak, selain sumber pakan ternak dapat juga digunakan sebagai pupuk organik tanaman kelapa sawit. Volume sumber limbah padat di perkebunan kelapa sawit cukup besar, berasal dari daun, pelepah, dan tandan. Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak (Djaenudin, et al., 1996). Ketersediaan pakan akan menentukan keberlanjutan usaha peternakan pada suatu wilayah. Di Indonesia sumber pakan ternak cukup banyak variasinya, antara lain dari pelepah sawit, dan bungkil sawit.

Dari setiap produk limbah cangkang sawit, 12 persennya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan sisanya diproses dijadikan kompos untuk pemupukan kelapa sawit. Pembuatan kompos sebagai sumber pupuk, dengan cara memanfatkan bungkil sawit ditambah dengan kotoran sapi (Deva et al., 2010). Salah satu limbah yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit diantaranya adalah tandan kosong kelapa sawit. Menurut Ditjen PPHP Departemen Pertanian (2006), tandan kosong kelapa sawit umumnya dapat langsung dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan tanpa harus diolah terlebih dahulu. Tandan kosong kelapa sawit biasanya dimanfaatkan sebagai mulsa di lahan perkebunan yang berfungsi sebagai penambah nutrisi tanah dan membantu mengurangi dampak yang kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman serta produksi pada saat kemarau. Tingkat polusi lingkungan telah dapat diminimalisir setelah pelarangan pembakaran tandan kelapa sawit kosong.

Manfaat perkebunan kelapa sawit yang sudah banyak dirasakan oleh peternak terutama adalah potensi hijauan yang tumbuh sebagai gulma di areal tanaman sawit. Limbah kebun sawit yang cukup potensial bagi produksi ternak adalah pelepah dan daun tanaman sawit yang oleh perusahaan dibuang setiap pemanenan tandan buah sawit. Kebun sawit dapat menghasilkan limbah pelepah sebesar 10,5 ton/Ha Limbah kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan tambahan sumber energi dan protein. Harga limbah kelapa sawit umumnya masih relatif sangat murah. Namun dalam pemanfaatannya perlu dicermati kandungan nutrisi dan bentuk fisiknya yang dapat mempengaruhi pemanfaatan dan nilai ekonominya, seperti: pelepah atau daun sawit banyak mengandung serat kasar dan lignin (Deva et al., 2010). Dalam sistem produksi peternakan, disamping kualitas bibit, pakan merupakan komponen utama yang menentukan tingkat produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan.

Limbah cair kelapa sawit digunakan sebagai pupuk. Metode aplikasi limbah cair yang umumnya diunakan adalah sistem flatbed, yaitu dengan mengalirkan limbah melalui pipa yang dialirkan ke parit. Limbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Penggunaan limbah cair mampu meningkatkan produksi TBS 16-60%. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap air tanah di sekitar areal aplikasinya (Hidayanto, 2007).

Daftar Pustaka:

Deva, C.,S.Martini, dan Marimin. 2010. Sistem penunjang keputusan untuk optimalisasi pemanfaatan limbah padat kelapa sawit. J. Tek. Ind. Pert. 20(2):130-142.

Hidayanto, M. 2007. Limbah sawit sebagai sumber pupuk organic dan pakan ternak. Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industry Olahannya sebagai Pakan Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur. Hal. 84-90.

Sari, E. 2008. Pembukaan Lahan Kelapa Sawit Untuk Perbaikan Taraf Hidup Rakyat dan Isu Pemanasan Global: Pendekatan Utilitarian Pada Agribisnis. The 2nd National Conference UKWMS. Surabaya.

Deptan. 2006. Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit. Subdit Pengelolaan Lingkungan, Ditjen PPHP, Deptan. http://www.agribisnis.deptan. go.id. [25 November 2012].