Tag Archive: buah lokal

buah-localDalam waktu dekat Kementerian Riset dan Teknologi akan bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB dalam pengembangan viariteas unggul buah-buahan seperti Nanas, Pepaya dan Pisang.

Hal itu sejalan dengan Kemenristek yang berkomitmen mendukung sinergi kegiatan penelitian, utamanya dalam kerangka penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) serta mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

Asdep Kompetensi Kelembagaan I Wayan Budiastra menyatakan bahwa melalui kegiatan thematik pangan sejak tahun lalu telah memfasilitasi peneliti dari LPNK terkait (BPPT, LIPI dan BATAN) untuk mengimplementasikan kegiatan penelitian mereka dengan memanfaatkan lahan yang ada di Puspiptek.

>Oleh karena itu menurut Wayan inisiatif terkait dengan upaya sinergi hasil penelitian dikawasan Puspiptek perlu terus dilakukan.

Tujuannya adalah sebagai bagian dari upaya mensinergikan kegiatan riset sekaligus menjadikan Puspiptek sebagai etalase atau show room dari hasil -hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti.

Sementara itu, Kepala Pupsiptek Wisnu Sardjono Soenarso menyambut baik pelaksananan kegiatan tersebut, karena memang sesuai dengan peruntukkannya kawasan Puspiptek sebagai pusat penyelenggaran riset serta budaya inovasi dan daya saing usaha terkait serta lembaga-lembaga berbasis pengetahuan.

Namun demikian, harus dibarengi dengan komitmen dari para pelaku kegiatan dan peneliti terkait dengan pengelolaan dan keberlanjutan kegiatan yang dilakukan.Dalam rangka itu diadakan pertemuan untuk menyepakati dan merumuskan kembali mekanisme sinergi penelitian serta pengelolaannya, sehingga kegiatan yang dilakukan dapat terlihat hasilnya di masa mendatang.

Sumber: http://www.technology-indonesia.com

IPB terus mengembangkan varietas buah lokal yang ada di Indonesia, kini beberpa komoditas menjadi komoditas andalan di Indonesia yaitu pepaya, pisang, nanas, manggis, durian, dan masih banyak lagi. Terus dukung potensi buah lokal kita, yakin suatu saaat Indonesia menjadi pengekspor buah-buahan di seluruh negara di dunia. Menjaga dan melestarikan komoditas nusantara adalah tugas kita, so konsumsilah buah lokal selain sehat harga terjangkau.

-I LOVE INDONESIA, AKU CINTA BUAH NUSANTARA-

buah-local

Himpunan Alumni IPB geram terhadap kondisi terpinggirkannya buah lokal karena beberapa aspek. Ketua Himpunan Alumni IPB, Said Didu mengatakan kondisi itu disebabkan oleh kurang tersedianya benih berkualitas dalam jumlah memadai, lemahnya kegairahan petani baru untuk produk buah-buahan. Juga kurang memadainya infrastruktur logistik buah.

“Ditambah lagi dengan adanya perubahan perilaku konsumen yang semakin menyukai produk impor. Karena buah impor yang semakin mudah dan murah. Hal ini menujukkan kekurangberpihakan kebijakan fiskal terhadap buah lokal Indonesia,” ujar Said Didu, minggu (10/7) saat mengkampanyekan Gemari Buah Lokal di Jakarta.

Menurut Said, perlu ada gerakan yang massif dan sistematika agar konsumsi buah lokal dicintai di negerinya sendiri.

Sementara Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Sri Kuntarsih menyatakan kuatnya arus globalisasi menjadi faktor persoalan ini sulit diatasi. Di sisi lain data PDB menyebutkan buah nasional selama 2005-2010 naik sebesar 63,5 persen begitu juga produksi buah naik di kurun lima tahun terakhir hingga 29,21 persen.

Menurut Sri Kuntarsih , minimnya minat konsumen dan ketersediaan buah lokal terutama di pasar modern juga menjadi penyebab produk dalam negeri kalah bersaing.

Buah impor khususnya dari China dinilai memiliki produk berkualitas, baik, dan harganya sangat terjangkau. Tidak heran perbandingan nilai impor terhadap ekspor buah nasional sebesar 293,9 persen.

Membanjirnya buah impor ke dalam negeri, terutama di pasar-pasar modern menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi tidak otomatis menunjukkan bahwa buah lokal telah terpuruk di negeri sendiri.

“Secara jumlah (impor buah-buahan) sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan produksi nasional yakni hanya 3,5 persen pada 2010,” katanya.

Pada tahun lalu, produksi buah nasional 19,03 juta ton sedangkan impor hanya 667 ribu ton sementara ekspor buah Indonesia 276 ribu ton.

Ekspor buah nasional terdiri atas manggis, nanas, mangga dan rambutan yang umumnya tergantung musim.

Selain itu menurut Bayu beragamnya jenis buah yang dimiliki Indonesia temyata tidak lantas mendorong perbaikan produksi dan kualitas buah nasional. Petani kurang bisa mempertahankan kualitas buah secara seragam dan kontinu.

Bayu menyontohkan Thailand, yang dulu punya 60 jenis durian, tapi kemudian atas titah raja, pengembangan durian diputuskan untuk hanya berfokus pada 7 jenis. Dengan begitu, kuantitas dan kualitas produk tetap terjaga.”Ketegasan memilih jenis itu butuh keberanian besar,” kata Bayu.

Selain itu, Indonesia tidak memiliki perkebunan buah nasional, melainkan skala kecil yang dikelola petani, sehingga tidak bisa dihitung dalam hektare seperti negara lain. Padahal konsumsi buah di dalam negeri termasuk tinggi, mencapai 18,5 juta ton per tahun.
Dari segi permintaan, sebetulnya produksi buah nasional juga naik 12-15 persen selama lima tahun terakhir ini. “Jika ada kesan buah impor dominan, temyata angkanya tidak benar,” kata Bayu.

Produksi buah terbanyak termasuk golongan buah musiman atau eksotik. Sayangnya, kendala alamiah produksi akibat dua musim yang dimiliki Indonesia membuat buah tidak bisa secara reguler tak dapat dipasok setiap saat.

Sumber: http://www.technology-indonesia.com

Terbukti kan ya, Indonesia tidak kalah dengan negara lain, maka cintailah produk kita dalam menjaga kualitas produk kita. Jika kita dapat terus percaya dan menggemari buah lokal maka bdan kita akan sehat dan yang paling penting petani akan semangat terus mengembangkan inovasi untuk menciptakan varietas tanaman yang unggul dan produktivitas unggul sesuai dengan daerah Indonesia (tropika).

Di tengah maraknya bahan pangan impor yang berdatangan ke Indonesia, bahan pangan lokal mulai terlupakan dan jarang diminati masyarakat. Padahal bahan pangan lokal memiliki berbagai kelebihan. Selain harganya yang relatif lebih murah, bahan pangan lokal juga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan.

Mengkonsumsi pangan lokal terutama buah dan sayuran asli Indonesia, bukan hanya akan mendapatkan nutrisi yang lebih tinggi, tetapi juga dapat membantu mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker stroke atau pun sakit jantung.

Hal tersebut diungkapkan pakar ilmu gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ahmad Sulaiman pada acara “Nutritalk Jelajah Gizi” yang diselenggarakan Sari Husada di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jumat (2/11/2012) lalu.

“Memperbanyak konsumsi buah dan sayur-sayuran lokal sebenarnya dapat dijadikan upaya mencegah penyakit-penyakit tidak menular dan penyakit kronis seperti diabetes, jantung, stroke. Buah-buahan dan sayuran lokal ini dapat melakukan detoksifikasi, mencegah peningkatan kolesterol, dan tentu saja tidak ada racun atau pestisida di dalamnya,” ungkap Ahmad.

Ahmad menegaskan, produk pangan lokal sebenarnya memiliki banyak keunggulan dibanding produk impor. Ia menilai masyarakat saat ini cenderung lebih menyukai produk pangan impor, termasuk buah dan sayuran. Bahkan, membeli bahan pangan impor di supermarket atau mall sudah menjadi gaya hidup.

Tetapi ironisnya, banyak dari mereka yang belum memperhitungkan faktor keamanan dan risikonya bagi kesehatan. “Masih banyak orang tidak peduli dengan keamanan dari pangan impor,” terangnya.

Bahan pangan impor seperti buah dan sayuran, papar Ahmad, mengundang risiko lebih besar bagi kesehatan karena mungkin saja disemprot pestisida dan dilapisi fungisida untuk mencegah pembusukan. Sedangkan produk lokal relatif lebih aman. Penanamannya pun kebanyakan organik, dan tidak diberi zat kimia pengawet.

Selain itu, kata Ahmad yang juga peneliti pada Pusat Studi Hortikultura dan Buah-buahan Tropis IPB, jenis buah dan sayuran lokal lebih beragam dibandingkan pangan impor. Walaupun ketersediaan buah dan sayuran lokal bisa berbeda-beda karena menyesuaikan dengan musimnya.

“Sekarang kita sedang melimpah mangga, sebentar lagi rambutan, lalu dukuh, disusul manggis, lalu sawo. Ada terus setiap musim sehingga kita tidak akan bosan,” papar Ahmad.

Dengan bergantinya musim, kata Ahmad, tubuh manusia juga akan menyesuaikan diri. Kandungan nutrisi dalam buah dan sayuran pun akan berubah dan lebih optimal menyesuaikan dengan musimnya. Alhasil, apabila kita mengonsumsi pangan sesuai musimnya tentu tubuh akan lebih sehat.

“Tuhan memang menyediakan buah-buahan tersebut disesuaikan dengan tubuh dan daya tahan tubuh kita,” ujar Ahmad.

Ahmad menyayangkan, keunggulan pangan lokal seperti buah dan sayuran tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran pemerintah dan media dalam mensosialisasikan keistimewaan pangan lokal.

Ia juga mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat studi epidemiologi tentang konsumsi bahan pangan, baik impor dan lokal, dikaitkan dengan efeknya terhadap kondisi kesehatan dan penyakit. Hal ini penting untuk mengangkat dan lebih meyakinkan lagi tentang pentingnya mengonsumsi pangan lokal bagi upaya perbaikian kualitas kesehatan masyarakat.

Sumber : www.kompas.com

Nah untuk apa ragu lagi, pengen sehat, aman konsumsilah buah dan syuran lokal yang sudah kita ketahui sehatnya. Produk dalam negeri jauh lebih sehat dari pada produk negara lain yang kita tidak tau penanganan pasca panennya, dan belum tau juga itu buah kapan dipanen. Pastikan produk ang anda beli adalah produkA SLI Indonesia, wujudkan kemandirian pangan dengan mengkonsumsi produk nasional.

-I LOVE INDONESIA, AKU CINTA BUAH DAN SAYURAN NUSANTARA-

Nantikan artikelnya….