Tag Archive: impor

Padi Beras atau Ketan Nih??

Dua hal sama tapi berbeda, kenapa???

ya beras dan ketan merupakan masih satu komoditas yaitu Padi. Permasalah yang ada di Indonesia adalah kelemahan ketahanan pangan karena minimnya persediaan beras nasional. Saya ingin menceritakan pengalaman saya selama Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Subang. Subang dikenal sebagai kota lumbung padi setelah Karawang dan Indramayu. Subang memiliki lahan yang sangat luas, yaitu 84.929 hektar atau sekitar 41,39% dari total luas wilayah Kabupaten Subang.

Permasalah yang ada saat saya berada di Subang tepatnya di Desa Nanggerang, Kec. Binong, sawah yang luasnya rata-rata diatas 2 Ha petani menanam padi tipe ketan. Sangat jarang para petani menanam padi beras, kenapa?? ya di subang merupakan sentral padi, menjadi tumpuan persediaan beras di Jawa Barat, namun setelah di amatai ternyata kebanyakan para petani menanam padi tipe ketan karena harga jual padi ketan lebih mahal padi beras. Walau selisih harga hanya Rp. 200,- para petani mengharap keuntungan lebih besar dari hasil penjualannya.

Padi beras tipe Ciherang jarang di temui di Desa Nanggerang, berdasar penjelasan dari petani Desa Nanggerang varietas padi Ciherang tidak cocok untuk ditanam di Desa tersebut. Varietas padi yang ditanam di Desa Naggerang adalah padi beras var. Cidenok dan IR64. Cidenok merupakan varietas lokal yang strukturnya mirip dengan Ciherang. dan lainnya adalah padi jenis Ketan, varietas IR42 dll.

Beras ditanam hanya untuk konsumsi keluarga, berbeda dengan ketan yang mmiliki harga sangat tinggi dibanding dengan beras. Media Oke zone juga menyebutkan bahwa “Tercatat kebutuhan beras ketan dalam negeri mencapai 350 ribu ton setiap tahunnya, terdiri dari 200 ribu ton beras ketan utuh dan 150 ribu ton beras ketan pecah. Di 2012, impor beras ketan utuh baru mencapai 110 ribu ton dan beras ketan pecah mencapai 121 ribu ton.” Nah miris bukan?? ketika saya melihat di Subang kebanyakan para petani menanam Ketan tapi kenapa masih Impor ya??

Saya sempat berbincang bincang dengan salah satu petani di Desa tersebut, “Pak, apa ini ya maslah utama kita, kebanyakan para petani menanam ketan sehingga beras menjadi langka?” petani pun menjawab, ” mungkin salah satunya begitu dhe, tapi mau gimana lagi petani juga ingin makan, siapayang lebih untung itu yang petani tanam. kalau maslah makan beras para petani disini kebanyakan sudah mensisakan sebagian sawah buat di tanam beras dhe sehingga bisa mencukupi kebutuhan pangan keluarganya sendiri”.

mengingat jaman Soeharto, terjadi swasembada beras karena adanya tanam serentak, dimana semua varietas diseragamkan yaitu IR64, hampir disemua daerah wajib ditanam varietas tersebut, alhasil produksi padi meningkat disetiap daerahnya dan tercapai swasembada beras di tahun 1997.

Semoga ada program yang baik dan tepat dalam mencukupi kebutuhan pangan nasional, baik padi ketan maupun padi beras.

Dimana Kacang Tanah Kita?

Semalam saya iseng cari-cari artikel tentang kacang tanah, dan kini keadaanya sangat memprihatinkan. Bagai mana nasib negara ini? apa harus impor lagi, kelihatannya impor sekarang sudah tidak menjadi habatan negara kita bahkan sudah menjadi kebutuhan negara kita. Kebijakan yang kurang tepat di pihak petani, membuat para petani enggan menanam komoditas tersebut.

Menurunnya produksi kacang tanah di Indonesia diakibatkan susahnya persediaan benih unggul yang dibutuhkan para petani, misalnya saja di Bandung yang dimuat berita online Bisnis.com, menyatakan bahwa “Komoditas kacang tanah di Jawa Barat terancam akan punah karena minimnya petani yang menanam komoditas tersebut. Hal ini disebabkan karena sulitnya benih dan rendahnya keuntungan yang didapat”. Pemerintah harus bertindak cepat dalam mengatasi hal ini, jangan sampai kacang tanah menjadi makanan langka di Indonesia. Banyaknya industri dan kebutuhan pangan akan kacang tanah di Indonesia, permintaan kacang tanah semakin besar. Hal ini tak sebanding dengan produksi yang diperoleh dalam negeri.

Selain dari persediaan benih kacang tanah, kendala lainnya adalah rendah ya harga kacang tanah, harga kacang tanah tidak sebanding dengan budidaya kacang tanah, sehingga para petani mengalami kerugian. Menurutnya petani, total biaya produksi untuk 1 ha mencapai Rp10 juta dengan kisaran produksi sebesar 455 ton selama musim panen tiga bulan. “Pendapatan petani dari musim panen hanya Rp16 juta dari total produksi tersebut, sementara dalam 1 ha lahan tanam dikelola sedikitnya empat petani, jadi rata-rata petani mendapatkan penghasilan Rp1,5 juta, belum dipotong lainya, itu sangat jauh dari penghasilan petani padi,” ujarnya.

Pada tahun ini pemerintah impor kacang tanah dari Cina dan India sebesar 92 ribu ton kacang tanah, seolah sudah menjadi langganan Indonesia negara Cina dan India ini dalam menyediakan kacang tanah di Indonesia. kenapa musti impor, begeri ini sudah kebanjirang barang impor. Petanilah yang selalu dirugikan, banyaknya barang impor di Indonesia sangat merugikan para petani. Harga yang dijual dipasaran tidak sesuai dengan harga petani, disinlah para petani menanggung semua kerugiannya. Kebijakan besaran impor yang kurang tepat di rasa menjadi masalah penting, seharusnya kurang 10% kebutuhan kacang tanah, pemerintah harus impor 10%, sehingga hanya dapat menutupi kekurangan saja tanpa merugikan harga tetapan petani, bukan di lebihkan yang dapat memberi dampak turunya harga tetapan petani.

Kacang tanah harus mendapat perhatian penting, kini tanaman pangan sudah memasuki masa kritisnya, kedelai yang harus impor, padi yang harus impor, dan kacang tanah yang harus impor, terus di negara kita ada apa saja ya??? ironis negeri ini, kurangnya perhatian pemerintah kebutuhan pangan kita menjadi kendala uatam dalam negeri ini. Kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional harus dapat di tingkatkan, prioritaskan para petani tanaman pangan dan terus mengembangkan penelitian tentang tanaman pangan di Indonesia.

Kacang Tanah Nasional

hj
Pengen sharing tentang kacang,
kacang??? kacang lagi kacang lagi…
memang gak ada habisnya tentang komoditas tersebut.

Kacang tanah menjadi tanaman pangan terpenting ke tiga setelah padi dan kedelai lho… tau ngga sebelumnya? komoditas ini memang gak sesering yang kita lihat seperti padi namun banyak masyarakat di Indonesia yang memanfaatkan sebagai bahan campuran makanan seperti pecel sayur, gado-gado, rempeyek kacang, bahan baku industri seperti kacang dua kelinci, garudafood, dll, serta banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak. Pada bahan ternak kebanyakan menggunakan limbah atau kulit serta kacang yang rusak. Bahkan yang trend sekarang kulit kacang tanah dapat digunakan sebagai media tanam, karena mengandung ca yang cukup untuk tanaman.

Otomatis dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang kian tahun kian bertambah akan mempengaruhi permintahan bahan pangan termasuk kacang tanah, padahal produksi kacang tanah di Indonesia masih sangat rendah bahkan belum dapat mencukupi kebutuhan kacang tanah nasional. Pengen tahu produksi kacang tanah Indonesia?? menurut data BPS produksi kacang tanah Indonesia pada tahun 2012 sebesar 705.063 ton sedangkan kebutuhan kacang tanah nasional tahun 2012 sebesar 831.877 ton, lha terus kurangane piye? ya impor leh leh… betul negara harus mengimpor kacang tanah dari negara lain sebesar 125.636 ton cukup besar bukan? hitung aja dan rupiahin berapa duit yang harus diberikan ke petani negara lain.

Ada yang tahu bahwa sejak tahun 1979 Indonesia sudah impor kacang tanah dari negara lain? Dan itu berlaku hingga tahun ini (2013), negara kita masih ketergantungan dengan negara lain. Padahal data dari FAO Indonesia menempati 7 produsen kacang tanah terbesar di dunia, namun masih belum mencukupi kebutuhan nasional sehingga harus impor dari negara yang produsennya lebih rendah dari Indonesia seperti India, vietnam, dll.

Ngomong rendahnya produksi kacang tanah salah satunya ya produktivitas kacang tanah yang diguanakan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, USA, Argentina, Brasil yang sudah mencapai diatas 2 ton/ha sedangkan Indonesia masih sekitar 1,26 ton/ha. Perbedaan yang masih sangat jauh, namun ada kelebihan ya itu umur panen yang ditanam di Indonesia masih tergolong genjah dibanding kacang tanah dari negara lain.

Bersambung…..