Category: Ekoling

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang berkembang sangat pesat di Indonesia dan memberikan kontribusi penting dalam pembangunan ekonomi. Meningkatnya permintaan kelapa sawit dalam bentuk minyak nabati mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit (Sari, 2008). Meningkatnya perkembangan industri kelapa sawit sejalan dengan meningkatnya limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Oleh karena itu diperlukan metode penanganan limbah kelapa sawit yang tepat dan optimal untuk diterapkan, agar limbah kelapa sawit yang terus meningkat dapat diatasi dengan baik, dengan mengolah kembali limbah sehingga dampak negatif yang ditimbulkan limbah dapat diminimalkan.

Limbah yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit diantaranya adalah limbah padat dan limbah cair. Limbah padat umumnya digunakan untuk sumber pakan ternak, selain sumber pakan ternak dapat juga digunakan sebagai pupuk organik tanaman kelapa sawit. Volume sumber limbah padat di perkebunan kelapa sawit cukup besar, berasal dari daun, pelepah, dan tandan. Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak (Djaenudin, et al., 1996). Ketersediaan pakan akan menentukan keberlanjutan usaha peternakan pada suatu wilayah. Di Indonesia sumber pakan ternak cukup banyak variasinya, antara lain dari pelepah sawit, dan bungkil sawit.

Dari setiap produk limbah cangkang sawit, 12 persennya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan sisanya diproses dijadikan kompos untuk pemupukan kelapa sawit. Pembuatan kompos sebagai sumber pupuk, dengan cara memanfatkan bungkil sawit ditambah dengan kotoran sapi (Deva et al., 2010). Salah satu limbah yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit diantaranya adalah tandan kosong kelapa sawit. Menurut Ditjen PPHP Departemen Pertanian (2006), tandan kosong kelapa sawit umumnya dapat langsung dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan tanpa harus diolah terlebih dahulu. Tandan kosong kelapa sawit biasanya dimanfaatkan sebagai mulsa di lahan perkebunan yang berfungsi sebagai penambah nutrisi tanah dan membantu mengurangi dampak yang kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman serta produksi pada saat kemarau. Tingkat polusi lingkungan telah dapat diminimalisir setelah pelarangan pembakaran tandan kelapa sawit kosong.

Manfaat perkebunan kelapa sawit yang sudah banyak dirasakan oleh peternak terutama adalah potensi hijauan yang tumbuh sebagai gulma di areal tanaman sawit. Limbah kebun sawit yang cukup potensial bagi produksi ternak adalah pelepah dan daun tanaman sawit yang oleh perusahaan dibuang setiap pemanenan tandan buah sawit. Kebun sawit dapat menghasilkan limbah pelepah sebesar 10,5 ton/Ha Limbah kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan tambahan sumber energi dan protein. Harga limbah kelapa sawit umumnya masih relatif sangat murah. Namun dalam pemanfaatannya perlu dicermati kandungan nutrisi dan bentuk fisiknya yang dapat mempengaruhi pemanfaatan dan nilai ekonominya, seperti: pelepah atau daun sawit banyak mengandung serat kasar dan lignin (Deva et al., 2010). Dalam sistem produksi peternakan, disamping kualitas bibit, pakan merupakan komponen utama yang menentukan tingkat produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan.

Limbah cair kelapa sawit digunakan sebagai pupuk. Metode aplikasi limbah cair yang umumnya diunakan adalah sistem flatbed, yaitu dengan mengalirkan limbah melalui pipa yang dialirkan ke parit. Limbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Penggunaan limbah cair mampu meningkatkan produksi TBS 16-60%. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap air tanah di sekitar areal aplikasinya (Hidayanto, 2007).

Daftar Pustaka:

Deva, C.,S.Martini, dan Marimin. 2010. Sistem penunjang keputusan untuk optimalisasi pemanfaatan limbah padat kelapa sawit. J. Tek. Ind. Pert. 20(2):130-142.

Hidayanto, M. 2007. Limbah sawit sebagai sumber pupuk organic dan pakan ternak. Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industry Olahannya sebagai Pakan Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur. Hal. 84-90.

Sari, E. 2008. Pembukaan Lahan Kelapa Sawit Untuk Perbaikan Taraf Hidup Rakyat dan Isu Pemanasan Global: Pendekatan Utilitarian Pada Agribisnis. The 2nd National Conference UKWMS. Surabaya.

Deptan. 2006. Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit. Subdit Pengelolaan Lingkungan, Ditjen PPHP, Deptan. http://www.agribisnis.deptan. go.id. [25 November 2012].

Sektor pertanian selama ini bertanggung jawab atas 14% emisi gas rumah kaca global. Jika digabung bersama sektor kehutanan, sumbangan gas rumah kaca kedua sektor tersebut bisa mencapai 33%.

Sektor pertanian yang dikelola secara berkelanjutan akan membawa banyak manfaat yaitu menjamin keamanan pangan, kelestarian alam, penyerapan karbon, menciptakan lapangan kerja dan kehidupan yang lebih layak.

Investasi di sektor pertanian menjamin keamanan gizi, keamanan pangan serta kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi emisi dan dampak negatif pemanasan global.

Semua manfaat itu bisa diraih dengan mengikuti 13 langkah berikut:

1. Mengurangi jarak antara lahan pertanian dengan konsumen. Di negara maju, produk-produk pertanian seringkali harus menempuh jarak ribuan kilometer sebelum sampai di meja makan. Dengan mengurangi jarak antara lahan pertanian dan konsumen, konsumen akan bisa menikmati produk yang lebih segar dan sehat, sekaligus mengurangi emisi karbon di perkotaan.

2. Meningkatkan dan mengelola kesuburan tanah, dengan cara mengurangi pupuk kimia dan pestisida untuk beralih ke sistem pertanian organik.

3. Memanen dan menggunakan air secara lebih efisien. Dua proses tersebut bertujuan untuk menghemat energi dan air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga.

4. Mengurangi dampak negatif peternakan terhadap lingkungan. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan mengolah limbah peternakan menjadi energi seperti biogas.

5. Mengembalikan fungsi predator dan penyerbuk alami, dengan menjaga habitat dan keanekaragaman hayati.

6. Menciptakan berbagai program sosial guna meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat dan petani miskin diantaranya melalui sistem jaring pengaman sosial.

7. Memerkuat pasar dan manajemen risiko pertanian. Di negara agraris, menciptakan pasar yang kuat bisa dilakukan dengan mengembangkan pasar dalam negeri dan pasar ekspor, melindungi petani dari produk-produk pertanian impor yang biasanya tidak sehat dan ramah lingkungan.

8. Memerkenalkan sistem pertanian cerdas yang ramah iklim (climate smart agriculture), dengan cara mengelola lahan dan limbah pertanian secara hijau. Misal dengan tidak membakar limbah pertanian sembarangan. Mengubah limbah pertanian menjadi energi dengan bantuan teknologi dan sistem manajemen lahan.

9. Menjaga sumber genetik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian melalui bantuan riset dan pengembangan.

10. Mencegah hilangnya produk paska panen, dengan memerbaiki sistem transportasi produk-produk pertanian.

11. Memerbaiki teknologi pemrosesan produk-produk pertanian, sehingga produk pertanian bisa lebih awet dan bernilai ekonomi.

12. Mengubah pola makan, dengan memilih bahan-bahan makanan yang ramah lingkungan (sustainable diets). Misal dengan memilih daging dan sayuran organik lokal yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi jejak karbon.

13. Mengurangi makanan dan bahan makanan yang terbuang. Banyak dapur rumah tangga dan restoran di negara maju yang masih membuang sisa-sisa bahan makanan atau makanan yang sudah jadi. Hindari membuang makanan dan bahan makanan sembarangan. Ingat, di negara miskin terutama di wilayah Afrika, masih banyak penduduk dunia yang kelaparan. Konsumsi makanan dan bahan makanan secara efektif dan efisien.

Ketigabelas langkah tersebut penting untuk menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Ayo ciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan. Ayo kembali ke alam dengan sistem pertanian organik.

Catatan Redaksi:

–> Data-data dalam artikel ini diambil dari laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berjudul Working towards a Balanced and Inclusive Green Economy, yang diterbitkan Desember, 2011.

–> Hijauku.com

Ekternalitas merupakan ketika outcome dari suatu pasar lebih mempengaruhi pihak lain dari pada pembeli dan penjual yang ada dalam pasar, atau efek samping yang ditimbulkan. Sehingga pasar kurang efisien dan tidak dapat memaksimalkan keuntungan.
Misal:
Jika pabrik gula menghasilkan polusi, dan biaya social dalam memproduksi gula lebih besar dari pada biaya produksinya. Dimana biaya yang digunakan untuk produksi atau output meliputi biaya social yang akan diberikan pada masyarakat yang terkena dampak polusi.

Pollution and the sosial kurva


Internalisasi eksternalitas merupakan memasukkan insentif perubahan dengan melibatkan orang-orang dalam proses produksinya dengan kata lain orang-orang yang terlibat dalam produksi membuat inovasi dalam meminimalkan polusi yang dihasilkan.

Pemerintah dapat melakukan internalisasi suatu eksternalitas dengan mengenakan keringanan pajak terhadap produsen untuk yang berhasil mengkonversikan kuantitas keseimbangan kedalam kuantitas keseimbangan secara sosial. Jika suatu perusahaan sudah menerapkan teknologi dalam penanganan polusi maka biaya social dari produksi lebih kecil dari biaya yang di keluarkan oleh produsen dan konsumen. Sebagian dampak eksternalitas kadang-kadang dapat terselesaikan sendiri oleh perusahaan.

Positive Eksternalities in Production Kurv

Pemerintah juga sering membantu dalam pemberian subsidi sebagai metode untuk menginternalisasikan eksternalitas. Ketika perusahaan tidak dapat mengatasi eksternalitas, maka pemerintah akan mengambil tindakan. Pajak merupakan alat utama yang digunakan untuk internalisasi eksternalitas negatif. Subsidi merupakan alat utama yang digunakan untuk internalisasi eksternalitas positif.

Sumber: Rangkuman Kuliah Ekoling 2012 (Rizal MK)