Category: Kacang Tanah

Ini Kacang Tanah

Kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) merupakan komoditas pertanian yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia, baik sebagai bahan makanan manusia maupun bahan baku industri. Tanaman kacang tanah berasal dari benua Amerika, khususnya dari daerah Brazilia (Amerika Selatan). Awalnya kacang tanah dibawa dan disebarkan ke benua Eropa, kemudian menyebar ke benua Asia sampai ke Indonesia (Purwono dan Purnamawati, 2007).

Di Indonesia kacang tanah dimanfaatkan sebagai bahan pangan konsumsi langsung atau campuran makanan seperti roti, bumbu dapur, bahan baku industri minyak dan produk makan ternak, sehingga kebutuhan kacang tanah terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, dan diversifikasi pangan. Produksi rata-rata kacang tanah nasional dari tahun 2006 hingga 2011 terus mengalami penurunan. Data BPS (Badan Pusat Statistk) menyebutkan bahwa produksi kacang tanah pada tahun 2006 produksi hasil sekitar 838,096 ton, pada taun 2011 sekitar 676,899 ton, selama tahun 2006 hingga 2011 produksi hasil kacang tanah mengalami penurunan sebesar 161,197 ton, hal ini tidak sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk tiap tahunnya.

Permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan produksi kacang tanah nasional disebabkan oleh: Produktivitas tanaman kacang tanah yang masih rendah dan menurunnya luas areal panen kacang tanah serta berkurangnya lahan yang produktif. Banyak upaya telah dilakukan dalam meningkatkan produksi kacang tanah, antara lain dengan memperbaiki cara bercocok tanam, penggunakan varietas unggul, dan penggunakan pupuk NPK, namun masih belum tercapai. Menurut Harsono (1993) rendahnya hasil kacang tanah juga dipengaruhi jumlah bulan basah kurang dari tiga bulan sehingga tanaman mengalami kekeringan.

Produksi kacang tanah dapat ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan, diantaranya dengan meningkatkan hasil tiap satuan luas, memperluas areal pertanaman kacang tanah, dan memperbaiki metode tanam pada tanaman kacang tanah. Simatupang dan Riza (1991) menyatakan bahwa produksi kacang tanah dapat ditingkatkan melalui pemberian kapur dan pemupukan. Perluasan areal kacang tanah di Indonesia umumnya memiliki tingkat kesuburan tanah yang beragam baik memiliki tingkat kesuburan rendah maupun tingkat kesuburan yang tinggi. Memperbaiki sistem budidaya dengan sistem tanam alur memberikan manfaat besar, terutama pada efisiensi penggunaan kapur dan memudahkan biji kacang tanah untuk berkecambah.

Sumarno et al. (2001) menyatakan bahwa kacang tanah sangat membutuhkan unsur hara N, P, K, dan Ca dalam jumlah yang cukup, sehingga membutuhkan pemberian kapur dan pemupukan baik organik maupun anorganik. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan efisiensi penyerapan unsur fosfor (P), yang dapat meningkatkan agregasi tanah sehinga tanah menjadi lebih gembur, dan sangat menguntungkan untuk pertumbuhan ginofor (Kari et al., 2000). Pengapuran juga dapat mengatasi lahan asam untuk meningkatkan produksi. Kacang tanah dapat digunakan sebagai tanaman pioner pada lahan bermasalah, karena dapat beradaptasi dan tumbuh cukup baik pada lahan masam dibandingkan dengan komoditi kacang-kacangan lainnya (Yuriansyah, 2001). Kombinasi antara kapur dan pemupukan menghasilkan pertumbuhan kacang tanah lebih tinggi dibanding tanpa kapur dan pupuk (Jumakir et al., 2000).

Daftar Pustaka:

Purwono, dan H.Purnamawati. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya. Bogor.

Harsono, A. 1993. Uji paket teknologi budidaya kacang tanah pada daerah yang potensial dalam teknologi untuk menunjang peningkatan produksi tanaman pangan. Balai penelitian tanaman pangan Malang.

Simatupang, R.S dan I. Ar-riza. 1991. Pengaruh Pemberian Kapur dan Pemupukan Fosfat pada Tanaman Kacang Tanah di Lahan Pasang Surut. Prosiding Seminar Penelitian Sistem Usahatani Lahan Gambut Kalimantan Selatan. Banjarbaru.

Sumarno, S.Hartati dan H. Widjianto. 2001. Kajian macam pupuk organic dan dosis pupuk P terhadap hasil kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) di tanah latosol. Sains Tanah. 1(1):1-6.

Kari, Z., Z.Yuliar, dan Suhartono. 2000. Pengaruh pupuk kalium (K) dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Jurnal Stigma 8(2): 123-126.

Yuriansyah. 2001. Tanggapan Beberapa Genotipe Kacang Tanah terhadap Pengapuran di Lampung. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 65 hal.

Jumakir, Waluyo, dan Suparwoto. 2000. Kajian berbagai kombinasi pengapuran dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan produksi kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) dilahan pasang surut. Jurnal Agronomi 8(1):11-15.

CC: Rizalm09.student.ipb.ac.id

Nah boss barutau nih, hehe :) maklum jarang baca-baca kini ternyta alat pengering kacang tanah sudah dikeluarkan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sangat efisien dan sangat bermanfaat bagi petani dalam mengeringkan kacang tanah jika dipanen saat musim hujan. Alat tersebut terdiri dari 2 komponen utama yaitu drum pengering yang dilengkapi sirip luar dan dalam. Alat pengering kacang tanah polong dirancang menggunakan dudukan mesin yang dilengkapi dengan roda, stir, rem, V-belt, dan injakan kaki yang digunakan saat transportasi alat pengering.

Prototipe Mesin Pengering Kacang tanah

Keunggulannya terletak pada pengeringan yang cepat sekaligus untuk menekan cemaran jamur pada kacang tanah, waktu pengeringan lebih Efisiens, mutu yang lebih baik. Disamping itu juga membantu para petani menyelamatkan hasil kacang tanah saat panen musim hujan. Selain terjangkau daya beli penjualan jasa alsintan (alat dan mesin pertanian), alat pengering tersebut juga mempunyai potensi untuk mempercepat proses pengeringan.

Alat pengering ini memiliki peluang komersial untuk dikembangkan oleh industri alsintan untuk memenuhi kebutuhan petani dalam penanganan pasca panen kacang tanah polong di sentra pertanaman kacang tanah.

Nah alat pengering kinisudah ada tinggal pemanfaatan yang maksimal dalam mencapai swasembada kacang tanah nasional. :)

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Untuk mengetahui keadaan kacang tanah Nasional yuk simak mas boss 😀
kini tanaman kacang-kacangan banyak dikembangkan tuk mencukupi swasembada kacang tanah dan kedelai nasional, pemerintah siapkan target tukmencapainya semua itu.

Makalah berjudul “Upaya Peningkatan Produksi Kacang Tanah melalui Perakitan Varietas Unggul Produksi Tinggi Toleran Penyakit Bercak Daun” telah diseminarkan Puslitbangtan, 12 Juli 2012. Selaku pemakalah adalah Ir Joko Purnomo, MS sebagai pemulia kacang tanah Balitkabi dan Drs Lukman Hakim, MS peneliti analisis kebijakan dari Puslitbangtan Bogor.

balitkabi.litbang.deptan.go.id

Pak Joko menjelaskan bahwa rata-rata nasional produktivitas kacang tanah saat ini adalah 1,3–1,5 t/ha, masih tergolong rendah. Hasil penelitian untuk peningkatan produktivitas kacang tanah melalui perakitan varietas telah dilakukan dan diperoleh sembilan (9) galur unggul dengan potensi hasil 4,0–4,5 t/ha. Galur-galur tersebut juga tahan penyakit bercak daun dan karat daun, namun umurnya agak panjang antara 110–115 hari. Untuk melepas galur-galur menjadi varietas masih diperlukan karakter umur yang genjah. Saat ini, produktivitas varietas unggul kacang tanah yang dilepas yaitu Hipoma 1 dan Hipoma 2 dapat mencapai 3,5 t/ha polong kering dengan karakter toleran kekeringan dan umur 90-100 hari.

balitkabi.litbang.deptan.go.id

agrohort.ipb.ac.id

Kumpulan Penelitian Kacang Tanah Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB,
Semoga bermanfaat dan berguna dalam penyusunan tugas akhir :)
Klik Judul, Artikel dalam bentuk PDF.

Sumber: agrohort.ipb.ac.id

Artikel lainnya bisa diunduh di SINI PDF.